24 Oktober 2018 10:26 am

Strategi Menetapkan Harga Produk dengan Trik-trik Psikologis

Strategi Menetapkan Harga Produk dengan Trik-trik Psikologis
Kalau kamu adalah seorang newbie yang tertarik untuk berjualan produk, atau pemilik bisnis yang sedang mencari strategi baru, kamu sudah mendarat di tempat yang tepat. Tujuan kita berbisnis adalah untuk menyelesaikan masalah dan mencari keuntungan. Tapi, bagaimana cara memberikan harga kepada produkmu supaya penjualan meningkat?
Jawabannya sederhana. Gunakan pendekatan psikologis saat menetapkan harga produk. Artikel ini akan memberikan bocoran trik-trik psikologis yang bisa diterapkan ketika menetapkan harga produk, agar harga produk kamu jadi jauh lebih menarik.
Untuk ilustrasi pelengkap, tonton video di bawah ini:


Pengaruhi Persepsi Konsumen


1. Kurangi 1 digit untuk angka paling kiri

Hal ini sudah banyak dilakukan oleh para pemasar dan brand-brand besar di seluruh dunia. Bayangkan saja sebuah HP dengan harga Rp 10.000.000. Harga ini mungkin dirasa mahal oleh banyak konsumen. Kalau penggunaan angkanya diubah menjadi Rp 9.999.000, orang akan lebih tertarik, padahal sebenarnya harganya sama saja.
Metode ini efektif sekali jika digit kirinya berubah. Perbedaan antara Rp 580.000 dengan Rp 579.000 tidak akan terasa. Tapi, perbedaan antara Rp 500.000 dengan Rp 499.000 dampaknya besar sekali. Padahal perbedaannya sama-sama Rp1.000.
Mengurangi digit kiri terakhir untuk menampilkan harga yang terkesan lebih murah. Sumber: YouTube Berdu.id
Mengurangi digit kiri terakhir untuk menampilkan harga yang terkesan lebih murah. Sumber: YouTube Berdu.id

Digit kiri ini penting sekali, dikarenakan cara kerja otak manusia yang memproses besaran angka bahkan sebelum angkanya selesai dibaca. Jadi, angka Rp 499.000 tadi akan diingat sebagai “400-ribuan”, dan terkesan lebih murah daripada angka Rp 500.000.

2. Tampilkan harga dalam ukuran font kecil

Konsep ukuran pada otak manusia ini bisa dibilang universal. Ada tumpang tindih antara ukuran visual dan besaran angka.
Itu juga mengapa pelanggan menganggap harga lebih murah kalau font harganya kecil. Namun, sebaliknya, untuk besaran diskon, fontnya harus diperbesar karena kita juga mau memaksimalkan persepsi diskon ini.

3. Sebutkan harga dalam ekuivalen harian

Daripada menuliskan layanan produk seharga Rp 300.000 per bulan, lebih baik kamu kemas ulang dan tulis harganya Rp 10.000 per hari.

4. Untuk harga besar, gunakan angka spesifik

Sebuah riset yang dilakukan oleh peneliti Cornell University pada tahun 2007 menunjukkan bahwa konsumen lebih cenderung melakukan pembayaran jika harganya spesifik, misalkan seperti Rp 26.297.850, dibandingkan jika harganya bulat seperti Rp 25.000.000.
Menurut para peneliti, hal ini dikarenakan manusia mengasosiasikan angka yang tidak bulat dengan nilai kecil. Angka yang tidak bulat juga lebih dianggap sebagai harga jujur, sehingga pembeli tidak merasa harganya “fiktif”.

5. Tampilkan harga produk di saat yang tepat

Untuk kategori barang mewah, tentunya kita berharap calon pembeli menetapkan keputusan mereka berdasarkan kualitas produk, bukan berdasarkan nilai ekonominya.
Rata-rata website perhiasan hanya menampilkan foto perhiasan mereka sebelum menunjukkan harganya berapa. Maka, untuk barang mewah, sebaiknya kamu menampilkan produk dulu, baru selanjutnya tampilkan harga.
Tapi, sebaliknya, untuk barang-barang yang sifatnya fungsional, seperti batu baterai, flashdisk, senter, sebaiknya tunjukkan harganya dulu sebelum menunjukkan produknya. Dengan demikian, pembeli akan cenderung lebih bisa menghargai nilai ekonomi dari pembelian ini.


Maksimalkan Harga Perbandingan


6. Untuk harga sebelum diskon, gunakan angka yang tidak bulat

Untuk meningkatkan kepercayaan pembeli, sebaiknya jangan gunakan angka bulat untuk harga sebelum diskon. Ini agar pembeli yakin bahwa harga coret ini memang harga yang sesungguhnya.
Ada survei yang memberikan harga sebelum diskon kepada pembeli, dan meminta mereka untuk menebak harga setelah diskon barang tersebut.
Ketika harga coret yang diberikan adalah angka tidak bulat seperti Rp 203.000 atau Rp 197.415, pembeli menebak harga setelah diskon barangnya tidak jauh dari harga sebelum diskonnya. Pembeli beranggapan bahwa harga ini adalah harga yang sesungguhnya, sehingga diskon yang diberikan tidak besar, karena penjual tidak mungkin mau menjual rugi.
Sedangkan ketika harga sebelum diskon yang diberikan adalah angka bulat seperti Rp 200.000, pembeli merasa harga asli barang tersebut jauh di bawah Rp 200.000. Hal ini karena pembeli menganggap Rp 200.000 adalah harga fiktif semata.

7. Pamerkan harga barang yang jauh lebih mahal

Pembeli secara tidak langsung menjadikan barang lain di suatu toko sebagai perbandingan. Jika kamu menampilkan produk lain yang lebih mahal, pembeli akan merasa produk-produk lainnya di tokomu adalah produk berkualitas, dan tidak berpikir panjang untuk membeli barang yang lebih murah di tokomu.

8. Tambahkan kontras visual di harga diskon

Agar informasi harga sebelum diskon semakin optimal, akan lebih baik kalau kita menggunakan warna dan ukuran font yang berbeda untuk harga setelah diskon. Ukuran font harga setelah diskon sebaiknya lebih kecil.

Memperkecil font dan mengubah warna harga setelah diskon. Sumber gambar: YouTube Berdu.id
Memperkecil font dan mengubah warna harga setelah diskon. Sumber gambar: YouTube Berdu.id


Kurangi "Rasa Sakit” dalam Membeli


9. Tekankan Nilai yang Melekat pada Produkmu

Konsumen sangat peduli terhadap kelayakan harga dengan kualitas produk. Dengan memastikan bahwa informasi kualitas kamu cukup transparan, kamu sudah menekankan nilai yang melekat pada produk kamu.
=== Demikian 9 strategi penetapan harga yang bisa diterapkan untuk menarik customer. Sekarang saatnya mengkaji ulang harga produk di toko kamu, dan terapkan strategi yang kamu rasa sesuai. Gunakan trik-trik di atas dengan bijaksana, semoga sukses!

Artikel Terkait:



Hanya dengan Rp 55.000 bisa memiliki Website sendiri!