22 Januari 2026 5:48 pm

Masalah Kelebihan Stok: Ini 9 Strategi Menjual Produk Macet

Masalah Kelebihan Stok: Ini 9 Strategi Menjual Produk Macet
Di dunia bisnis, stok adalah darah yang menjaga operasional tetap hidup. Terlalu sedikit, pesanan tak terpenuhi. Terlalu banyak, gudang berubah menjadi ruang penyimpanan uang yang tak bergerak. Inilah dilema klasik excess inventory, stok berlebih yang sudah diproduksi, tetapi tak kunjung menemukan pembeli.
Bagi pemilik usaha, terutama bisnis skala kecil dan menengah, manajemen inventori bukan sekadar urusan logistik. Ini adalah soal strategi bertahan hidup. Menjaga keseimbangan antara ketersediaan barang dan laju permintaan pasar menuntut ketelitian, insting, dan data yang akurat.
Masalahnya, stok berlebih tidak hanya memakan ruang. Kasus ini juga menyedot biaya penyimpanan, menahan arus kas, dan perlahan menggerus nilai produk seiring waktu. Nah, pendekatan inventory forecasting berbasis data terbukti mampu memangkas biaya persediaan secara signifikan, bahkan pada bisnis yang memproduksi berdasarkan pesanan.
Faktanya, perusahaan dengan perputaran stok tinggi cenderung lebih sehat dibanding mereka yang menumpuk barang di gudang. Perputaran inventori adalah cermin efisiensi operasional sekaligus ketepatan membaca pasar.

Ilustrasi gudang produk
Foto oleh Tiger Lily di Pexels
Ilustrasi gudang produk Foto oleh Tiger Lily di Pexels
Ketika bisnis terjebak dengan barang yang tak laku, risiko finansial mulai membesar. Karena itu, sangat penting untuk memahami cara menangani excess inventory, dan ada beberapa cara yang bisa Anda coba.
Pada intinya, ketika ada masalah kelebihan stok, langkah terpenting adalah menemukan cara untuk segera melepas produk agar stok tersebut tidak berubah menjadi beban mati bagi usaha.
Kabar baiknya, ada berbagai metode yang bisa diterapkan. Berikut 9 cara alias strategi untuk menjual barang-barang berlebih atau kasus kelebihan stok.

1. Jual secara online


Langkah paling mendasar, jika produk belum dijual secara online, kelebihan stok bisa menjadi dorongan kuat untuk segera membuka toko digital.
Kurangnya permintaan di pasar lokal offline tidak berarti produk tidak diminati di tempat lain. Dengan membuka toko online, bisnis dapat menjangkau audiens lebih luas dan meningkatkan peluang menjual stok berlebih.
Pertimbangkan membangun toko online yang matang, membuat website sendiri seperti Berdu untuk memproses transaksi dengan mudah. Alternatif lain, produk dapat dijual melalui platform pihak ketiga Shopee atau Tokopedia.
Membuka akun di berbagai platform ini relatif mudah dan memberi jalur baru untuk menjual stok berlebih dengan harga kompetitif.

2. Tawarkan program diskon


Ilustrasi gudang
Foto oleh Ihsan Adityawarman di Pexels
Ilustrasi gudang Foto oleh Ihsan Adityawarman di Pexels

Ketika melihat papan bertuliskan “Diskon 50%” di etalase toko, kebanyakan orang cenderung tertarik masuk. Prinsip yang sama berlaku dalam menjual stok berlebih.
Anda tidak perlu memberi tahu pelanggan bahwa potongan harga diberikan karena produk kurang laku. Diskon besar dapat menarik pembeli baru sekaligus menghabiskan stok yang menumpuk. Margin keuntungan memang menipis, tetapi itu jauh lebih baik daripada membiarkan barang tak terjual terus tersimpan.
Namun, diskon perlu dirancang secara strategis. Jangan sekadar membuat promo untuk satu produk saja. Kreativitas dalam pesan promosi sangat penting. Beberapa jenis penjualan yang efektif antara lain:
  • Clearance sale. Ini pada dasarnya adalah penjualan stok berlebih. Bagi pelanggan, ini menjadi kesempatan mendapatkan produk dengan harga miring yang sebelumnya mungkin tak mereka perhatikan atau tak terjangkau. Promo ini bisa dijalankan beberapa kali dalam setahun.
  • Seasonal sale. Produk tertentu laku pada musim tertentu. Toko buku dan alat tulis biasanya mengalami penurunan penjualan di musim liburan sekolah. Nah, diskon musiman membantu mencegah penumpukan stok menjelang periode sepi.
  • Flash sale. Promo satu hari menciptakan efek psikologis rasa mendesak. Informasikan melalui email, poster toko, atau marketing channel lain lain bahwa diskon hanya berlaku sehari. Konsumen yang merasa terburu-buru cenderung lebih siap berbelanja.

Diskon rutin dapat menjaga arus pembeli dan membantu menjual inventori yang berisiko memasuki akhir siklus hidup produk. Strategi ini mungkin kurang cocok untuk produk premium dengan margin tipis, tetapi efektif untuk menghindari depresiasi nilai barang.

3. Diskon pembelian dalam jumlah besar


Contoh produk di gudang 
Foto oleh cottonbro studio di Pexels
Contoh produk di gudang Foto oleh cottonbro studio di Pexels

Ketika membeli grosir, bisnis mendapat potongan harga berdasarkan volume. Prinsip serupa bisa diterapkan kepada pelanggan.
Jika stok berlebih cukup besar, tawarkan insentif agar konsumen membeli lebih dari satu unit. Program buy one get one bisa menjadi awal. Namun, pendekatan lain yang lebih agresif juga bisa dicoba, seperti diskon bertingkat: Potongan 30 persen untuk pembelian tiga unit, 40 persen untuk empat unit, dan 50 persen untuk lima unit atau lebih.
Diskon volume sering mendorong pelanggan membeli lebih banyak dari rencana awal mereka, sekaligus membantu mengurangi stok berlebih dengan lebih cepat.

4. Beri eksposur ekstra pada produk


Strategi ini terutama relevan untuk toko ritel fisik, meski prinsipnya bisa diterapkan dalam bentuk lain.
Dengan melakukan analisis, bisnis dapat memahami alur pergerakan pelanggan di dalam toko. Dari sana, produk stok berlebih bisa ditempatkan di beberapa titik dengan lalu lintas tinggi.
Sering kali, meningkatkan penjualan suatu produk hanya soal memastikan barang tersebut tidak luput dari perhatian pelanggan.

5. Bundling produk



Ilustrasi pekerja dalam gudang
Foto oleh EqualStock IN di Pexels
Ilustrasi pekerja dalam gudang Foto oleh EqualStock IN di Pexels

Jika ada produk yang sulit bergerak, coba pasangkan dengan produk lain yang justru sangat laris. Kelompokkan beberapa produk yang saling melengkapi, lalu tawarkan dalam satu paket dengan harga sedikit lebih murah dibanding jika dibeli terpisah.
Cara ini memungkinkan bisnis menjual produk lambat tanpa harus memangkas keuntungan terlalu dalam. Contoh, di bisnis makanan, Anda bisa membuat paket makanan yang paling laris dengan salah satu opsi minuman dan membuat harga spesial untuk paket tersebut.
Bundling tidak selalu harus menggabungkan produk yang saling berkaitan. Terkadang, daya tarik harga murah saja sudah cukup mendorong seseorang membeli. Produk yang bergerak lambat juga bisa ditawarkan sebagai upsell diskon bagi pelanggan yang sudah melakukan pembelian lain.

6. Remarketing


Jika berbagai cara belum berhasil, saatnya meninjau ulang strategi pemasaran. Baik bisnis yang beroperasi online maupun toko fisik dapat mencoba beberapa langkah berikut:
  • Gunakan kata kunci baru pada judul dan deskripsi produk.
  • Ambil foto baru yang menampilkan produk sedang digunakan atau dalam konteks berbeda.
  • Ubah penempatan produk di toko fisik maupun etalase online.

Jika perubahan ini membantu mengurangi stok berlebih, pertimbangkan menerapkan strategi pemasaran baru secara menyeluruh agar terbentuk identitas brand yang lebih konsisten.

7. Adakan giveaway


Cara lain yang bisa Anda coba adalah membagikan produk berlebih kepada pelanggan. Alih-alih menjualnya, giveaway bisa menjadi insentif agar pelanggan terus kembali.
Misalnya, setiap pelanggan ke-15 yang berbelanja mendapatkan satu produk gratis. Untuk barang bernilai lebih tinggi, pelanggan dapat diminta mengikuti undian dengan mendaftarkan email atau nomor ponsel. Strategi ini sekaligus membantu membangun database pemasaran sambil mengurangi stok.
Pilihan lain adalah memberikan produk kepada influencer atau key opinion leader di industri terkait. Mereka mungkin bersedia mengulas atau menggunakan produk tersebut, memberi eksposur gratis bagi brand.

8. Ubah menjadi hadiah atau insentif


Ilustrasi produk dengan masa simpan pendek
Foto oleh Mark Stebnicki di Pexels
Ilustrasi produk dengan masa simpan pendek Foto oleh Mark Stebnicki di Pexels

Beberapa produk memiliki masa simpan pendek. Barang seperti bunga, makanan, atau produk mudah rusak lainnya bisa dimanfaatkan sebagai hadiah bagi pelanggan.
Memberikan produk ini kepada pelanggan setia membantu menjaga loyalitas dan mendorong mereka kembali berbelanja. Produk berlebih juga dapat dijadikan insentif untuk menarik pelanggan baru. Contohnya, memberikan hadiah ketika seseorang membawa klien atau pelanggan baru ke bisnis.
Pada intinya, kelebihan stok alias excess inventory adalah situasi yang hampir pasti dialami setiap bisnis. Tantangannya adalah bagaimana menyingkirkannya tanpa menimbulkan kerugian besar. Menyimpan stok berlebih terlalu lama hanya akan menjadi beban keuangan.
Pendekatan strategis dan kreatif sangat diperlukan untuk menjualnya kepada pelanggan. Namun, jika akhirnya produk memang tidak bisa dijual, masih ada cara produktif untuk memanfaatkannya agar tidak sepenuhnya menjadi kerugian.
Ayo buat Website kamu sekarang!

Ingin mencari pengetahuan lain?

Ketik judul blog yang ingin kamu cari